Selama seseorang melakukan suatu pekerjaan tertentu didalam masyarakat, mereka cenderung untuk memperoleh sifat - sifat, minat, kebiasaan dan lain sebagainya. tanpa adaptasi untuk memenuhi tuntutan dari suatu pekerjaan tertentu, mereka tidak akan mampu untuk bekerja dengan baik. manusia teraleanasi dalam keadaan yang kompleks. mereka bekerja bukan karena kemauan akan tetapi karena kebutuhan yang mendesak mereke. pekerjaan yang dianggapnya baik hanya sekedar formalitas atas nama tanggung jawab.
manusia teralienasi dengan pekerjaan, ini sangat buruk, bahkan mereka tidak pernah bisa menikmati hasil daripada pekerjaanyya. seorang pembuat kue yang bekerja sebagai buruh bisa mati kelaparan hanya karena tidak dapat memakan hasil yang diproduksinya. karena jika seorang karyawan hendak memakan atas hasil produksinya ia tetap harus membayar sepadan dengan apa yang di jadikan komoditi perusahaan tanpa ada pembedaan. seorang pembuat sepatu NIKE juga harus membeli dengan harga yang sama asta apa yang mereka produksi sendiri. iniah mengapa manusia teraleanasi dengan pekerjaannya. karena selalu menciptakan suatu hal atas nama produksi akan tetapi tak mampu untuk menikmati hasil karyanya.
lalu bagaimana manusia akan bisa menikmati mahakaryanya sendiri???
selama mesin - mesin prduksi itu tak pernah kita miliki, manusia akan tetap teralienasi dengan banyak hal. alam pun akan membutakan bagaimana seseorang harusnya berfikir dan bekerja.
Alit Gedhe
Selasa, 09 Desember 2014
Kamis, 27 November 2014
Realitas Dunia Maya
Nyata adanya dalam separuh perspektif dan hegomoni culture masyarakat masa kini. Media massa di cetak sebagai dalih kemajuan teknologi dan intelegensi para aktor - aktor yang berbalik dari selimut komersialismenya. Tidak banyak orang yang menyadari keberadaan yang menjemukan ini. Adapun segelintir orang yang memberikan perhatian, akan tetapi tak banyak bersua. Seperti tidak adanya daya guna mereka untuk membalikkan dunia yang semakin berulah. Variasi konteks budaya yang termakan obsesi tak sedikit yang pada akhirnya menghegemoni masyarakatnya sendiri sebagai racun dalam madu. Doktrin yang ada dibelakang semakin bertumbuh tanpa ada pengendalian nyata yang konkrit.
Rasanya seperti dalam keadaan yang super anomi, kacau balau dan tak berujung. Nilai tak lagi dipermasalahkan dalam keadaan ini, karena orang lebih suka doktrin - doktrin media massa yang mengidentitaskan dirinya sebagai panggung hiburan yang pada akhirnya membentuk culture busuk ini, rasionalitasnya jelas yang kata mereka menurunkan moral. Akan tetapi lihat bagaimana semua yang dipersoalkan itu terabaiakan.
Masyarakat condong terhibur, suka, bahkan menggilainya. Kemunduran ini tidak akan pernah disadari sebelum manusia merasa capek dan bosan. Sayangnya kebosanan dan rasa capek ini tidak akan pernah berakhir, Industri - industri media massa tidak akan pernah berhenti membuat penasaran orang - orang dengan intelektualitas rendah atau bahkan tinggi, pembedaannya mungkin pada cara mengkonsumsikannya saja.
Melihat orang - orang yang semakin menggilai media massa dan dunia maya sangat menyenangkan, bagi saya suatu hiburan tersendiri yang sering kali mengundang gelak tawa, meski terkadang ini suatu hal yang menjijikkan. Publikasi diri tak akan luput dari keberadaannya, kiblatnya hanyalah sebatas eksistesi yang absurd. Jejaring sosial sebagai daya komersil akan semakin mendaya gunakan manusia - manusia yang gila akan sosial media, saya yakin sebagian besar mereka tidak akan pernah sadar, karena bagi mereka ini suatu hiburan. Terlihat lucu sebenarnya mengkaji persoalan seperti ini, orang - orang yang katanya eksis didunia maya ini tak pernah sadar bahwa sebenarnya mereka sedang menelanjangi diri sendiri. Akan tetapi di lain pihak bisa memberikan prestice yang positif. Semua tidak akan terlepas dari culture yang ada dibelakangnya, iya memang saya akui hal ini tak pernah bisa lepas dari tubuh manusia.
Cara dan sudut pandang yang berbeda akan menentukan baik buruk pilar - pilar kehidupan, entah nyata ataupun maya, hanya saja sedikit dari uraian saya ini yang sebenarnya tak ingin menyudutkan media massa. Meskipun media massa itu saya katakan kejam akan tetapi orang - orang inilah yang membuat media massa berulah demikian. Jejaring sosial dan sosial media dalam keberadaannya di dunia maya pun semakin menjamur,karna ini sebatas perintah dari kebutuhan manusia - manusia itu sendiri. Terkadang posisi ini membingungkan bagi saya, dalam konteks yang seperti ini tidak akan pernah bisa mencari siapakah yang akan pantas untuk disalah benarkan, media massakah, orang - orang yang ada di belakang layar, atau hegemoni sebagai culture budayanya sendiri. Atau mungkin tidak perlu dicari jawabannya...
Salam Cendekia - Alit Gedhe
Langganan:
Komentar (Atom)
