Kamis, 27 November 2014

Realitas Dunia Maya



Nyata adanya dalam separuh perspektif dan hegomoni culture masyarakat masa kini. Media massa di cetak sebagai dalih kemajuan teknologi dan intelegensi para aktor - aktor yang berbalik dari selimut komersialismenya. Tidak banyak orang yang menyadari keberadaan yang menjemukan ini. Adapun segelintir orang yang memberikan perhatian, akan tetapi tak banyak bersua. Seperti tidak adanya daya guna mereka untuk membalikkan dunia yang semakin berulah. Variasi konteks budaya yang termakan obsesi tak sedikit yang pada akhirnya menghegemoni masyarakatnya sendiri sebagai racun dalam madu. Doktrin yang ada dibelakang semakin bertumbuh tanpa ada pengendalian nyata yang konkrit. 

Rasanya seperti dalam keadaan yang super anomi, kacau balau dan tak berujung. Nilai tak lagi dipermasalahkan dalam keadaan ini, karena orang lebih suka doktrin - doktrin media massa yang mengidentitaskan dirinya sebagai panggung hiburan yang pada akhirnya membentuk culture busuk ini, rasionalitasnya jelas yang kata mereka menurunkan moral. Akan tetapi lihat bagaimana semua yang dipersoalkan itu terabaiakan. 

Masyarakat condong terhibur, suka, bahkan menggilainya. Kemunduran ini tidak akan pernah disadari sebelum manusia merasa capek dan bosan. Sayangnya kebosanan dan rasa capek ini tidak akan pernah berakhir, Industri - industri media massa tidak akan pernah berhenti membuat penasaran orang - orang dengan intelektualitas rendah atau bahkan tinggi, pembedaannya mungkin pada cara mengkonsumsikannya saja. 

Melihat orang - orang yang semakin menggilai media massa dan dunia maya sangat menyenangkan, bagi saya suatu hiburan tersendiri yang sering kali mengundang gelak tawa, meski terkadang ini suatu hal yang menjijikkan. Publikasi diri tak akan luput dari keberadaannya, kiblatnya hanyalah sebatas eksistesi yang absurd. Jejaring sosial sebagai daya komersil akan semakin mendaya gunakan manusia - manusia yang gila akan sosial media, saya yakin sebagian besar mereka tidak akan pernah sadar, karena bagi mereka ini suatu hiburan. Terlihat lucu sebenarnya mengkaji persoalan seperti ini, orang - orang yang katanya eksis didunia maya ini tak pernah sadar bahwa sebenarnya mereka sedang menelanjangi diri sendiri. Akan tetapi di lain pihak bisa memberikan prestice yang positif. Semua tidak akan terlepas dari culture yang ada dibelakangnya, iya memang saya akui hal ini tak pernah bisa lepas dari tubuh manusia. 

Cara dan sudut pandang yang berbeda akan menentukan baik buruk pilar - pilar kehidupan, entah nyata ataupun maya, hanya saja sedikit dari uraian saya ini yang sebenarnya tak ingin menyudutkan media massa. Meskipun media massa itu saya katakan kejam akan tetapi orang - orang inilah yang membuat media massa berulah demikian. Jejaring sosial dan sosial media dalam keberadaannya di dunia maya pun semakin menjamur,karna ini sebatas perintah dari kebutuhan manusia - manusia itu sendiri. Terkadang posisi ini membingungkan bagi saya, dalam konteks yang seperti ini tidak akan pernah bisa mencari siapakah yang akan pantas untuk disalah benarkan, media massakah, orang - orang yang ada di belakang layar, atau hegemoni sebagai culture budayanya sendiri. Atau mungkin tidak perlu dicari jawabannya... 

Salam Cendekia - Alit Gedhe